Selasa, 07 Mei 2013

Mengucapkan Salam Menurut Islam







Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hasyr Ayat 23:

Dialah Allah, tidak ada ilaah(sesembahan) yang layak kecuali Dia, Maha Rajadiraja, yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Mengaruniai rasa aman, Maha Memelihara, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan. Didalam ayat ini, As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah satu dari Nama-nama Agung Allah SWT. Kini, Kita akan mencoba untuk memahami arti, keutamaan dan penggunaan kata Salam.

Sebelum terbitnya fajar Islam, orang Arab biasa menggunakan ungkapan-ungkapan yang lain, seperti Hayakallah yang artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup, kemudian Islam memperkenalkan ungkapan Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa. Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan bahwa Salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti Semoga Allah menjadi Pelindungmu.

Ungkapan Islami ini lebih berbobot dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan kasih-sayang yang digunakan oleh bangsa-bangsa lain. Hal ini dapat dijelaskan dengan alasan-alasan berikut ini.

1. Salam bukan sekedar ungkapan kasih-sayang, tetapi memberikan juga alasan dan logika kasih-sayang yang di wujudkan dalam bentuk doa pengharapan agar anda selamat dari segala macam duka-derita. Tidak seperti kebiasaan orang Arab yang mendoakan untuk tetap hidup, tetapi Salam mendoakan agar hidup dengan penuh kebaikan.

2. Salam mengingatkan kita bahwa kita semua bergantung kepada Allah SWT. Tak satupun makhluk yang bisa mencelakai atau memberikan manfaat kepada siapapun juga tanpa perkenan Allah SWT.

3. Perhatikanlah bahwa ketika seseorang mengatakan kepada anda, “Aku berdoa semoga kamu sejahtera.” Maka ia menyatakan dan berjanji bahwa anda aman dari tangan (perlakuan)nya, lidah (lisan)nya, dan ia akan menghormati hak hidup, kehormatan, dan harga-diri anda.

Ibnu Al-Arabi didalam Ahkamul Qur’an mengatakan: Tahukah kamu arti Salam? Orang yang mengucapkan Salam itu memberikan pernyataan bahwa ‘kamu tidak terancam dan aman sepenuhnya dari diriku.’ Kesimpulannya, bahwa Salam berarti, (i) Mengingat (dzikr) Allah SWT, (ii) Pengingat diri, (iii) Ungkapan kasih sayang antar sesama Muslim, (iv) Doa yang istimewa, dan (v) Pernyataan atau pemberitahuan bahwa ‘anda aman dari bahaya tangan dan lidahku’ Sebuah Hadits merangkumnya dengan indah:

Muslim sejati adalah bahwa dia tidak membahayakan setiap Muslim yang lain dengan lidahnya dan tangannya

Jika kita memahami hadits ini saja, sudahlah cukup untuk memperbaiki semua umat Muslim. Karena itu Rasulullah Muhammad SAW sangat menekankan penyebaran pengucapan Salam antar sesama Muslim dan beliau menyebutnya sebagai perbuatan baik yang paling utama diantara perbuatan-perbuatan baik yang anda kerjakan. Ada beberapa Sabda Rasulullah, SAW yang menjelaskan pentingnya ucapan salam antar seluruh Muslim.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kamu tidak dapat memasuki Surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sehingga kamu berkasih-sayang satu sama lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang jika kamu kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih-sayang diantara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.” (Muslim)

Abdullah bin Amr RA mengisahkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah amalan terbaik dalam Islam?” Rasulullah SAW menjawab: Berilah makan orang-orang dan tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kamu saling mengenal ataupun tidak.” (Sahihain)

Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)

Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani) Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86:

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.

Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hathim. Suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, seseorang datang dan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum.” Maka Rasulullah SAW pun membalas dengan ucapan “Wa’alaikum salaam wa rahmah” Orang kedua datang dengan mengucapkan “Assalaamu’alikum wa rahmatullah” Maka Rasulullah membalas dengan, “Wa’alaikum salaam wa rahmatullah wabarakatuh” . Ketika orang ketiga datang dan mengucapkan “Assalaamu’alikum wa rahmatullah wabarakatuhu.” Rasulullah SAW menjawab: “Wa’alaika”. Orang yang ketiga pun terperanjat dan bertanya, namun tetap dengan kerendah-hatian, “Wahai Rasulullah, ketika mereka mengucapkan Salam yang ringkas kepadamu, Engkau membalas dengan Salam yang lebih baik kalimatnya. Sedangkan aku memberi Salam yang lengkap kepadamu, aku terkejut Engkau membalasku dengan sangat singkat hanya dengan wa’alaika.” Rasulullah SAW menjawab, “Engkau sama sekali tidak menyisakan ruang bagiku untuk yang lebih baik. Karena itulah aku membalasmu dengan ucapan yang sama sebagaimana yang di jabarkan Allah didalam Al-Qur’an.”

Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa, membalas Salam dengan tiga frasa (anak kalimat) itu hukumnya Sunnah, yaitu cara yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Kebijaksanaan membatasi Salam dengan tiga frasa ini karena Salam dimaksudkan sebagai komunikasi ringkas bukannya pembicaraan panjang.

Didalam ayat ini Allah SWT menggunakan kalimat obyektif tanpa menunjuk subyeknya. Dengan demikian Al-Qur’an mengajarkan etika membalas penghormatan. Disini secara tidak langsung kita diperintah untuk saling memberi salam. Tidak adanya subyek menunjukkan bahwa hal saling memberi salam adalah kebiasaan normal dan wajar yang selalu dilakukan oleh orang-orang beriman. Tentu saja yang mengawali mengucapkan salamlah yang lebih dekat kepada Allah SWT sebagaimana sudah dijelaskan diatas. Hasan Basri menyimpulkan bahwa:  “ Mengawali mengucapkan salam sifatnya adalah sukarela, sedangkan membalasnya adalah kewajiban” Disebutkan didalam Muwattha’ Imam Malik, diriwayatkan oleh Tufail bin Ubai bin Ka’ab bahwa, Abdullah bin Umar RA biasa pergi ke pasar hanya untuk memberi salam kepada orang-orang disana tanpa ada keperluan membeli atau menjual apapun. Ia benar-benar memahami arti penting mengawali mengucapkan salam. Pada bagian kalimat terakhir Surat An-Nisa ayat 86, Allah SWT berfirman:

… Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan. Disini, mendahului memberi salam dan membalasnya juga termasuk yang diperhitungkan. Maka kita hendaknya menyukai mendahului memberi salam. Sama halnya kita harus membalas salam demi menyenangkan Allah SWT dan menyuburkan kasih-sayang diantara kita semua.

Rasulullah SAW selanjutnya memberikan arahan memberi salam bahwa:

Orang yang berkendaraan harus memberi salam kepada pejalan-kaki.
Orang yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk.
Kelompok yang lebih sedikit memberi salam kepada kelompok yang lebih banyak jumlahnya.
Yang meninggalkan tempat memberi salam kepada yang tinggal.
Ketika pergi meninggalkan atau pulang ke rumah, ucapkanlah salam meski tak seorangpun ada di rumah (malaikat yang akan menjawab).
Jika bertemu berulang-ulang maka ucapkan salam setiapkali bertemu.
Pengecualian kewajiban menjawab salam:

Ketika sedang sholat. Membalas ucapan salam ketika sholat membatalkan sholatnya.
Khatib, orang yang sedang membaca Al-Qur’an, atau seseorang yang sedang mengumandangkan Adzan atau Iqamah, atau sedang mengajarkan kitab-kitab Islam.
Ketika sedang buang air atau berada di kamar mandi.
Selanjutnya, Allah SWT menerangkan keutamaan salam didalam surat Al-An’aam ayat 54:

Jika orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Al-Qur’an) datang kepadamu, ucapkanlah “Salaamun’alaikum (selamat-sejahtera bagimu)”, Tuhanmu telah menetapkan bagi diri-Nya kasih-sayang. (Yaitu) Bahwa barangsiapa berbuat kejahatan karena kejahilannya (tidak tahu/bodoh) kemudian ia bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Di ayat ini Allah SWT memerintah Nabi Muhammad SAW sehubungan dengan orang-orang beriman yang miskin, yang hampir semuanya menumpang tinggal di tempat para sahabat. Walaupun orang-orang kafir yang kaya meminta agar Rasulullah SAW mengusir para dhuafa’ itu supaya orang-orang kaya itu bisa bersama Rasulullah, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyambut para dhuafa’ Muslim itu dengan ‘Assalamu ‘alaikum’ pada saat kedatangan mereka. Hal ini mengandung dua arti: Pertama, menyampaikan penghormatan dari Allah SWT kepada mereka. Ini adalah kehormatan dan penghargaan yang tinggi bagi Muslim yang miskin dan tulus hati. Perlakuan ini menguatkan hati dan menambah semangat mereka. Arti ke-dua, menyampaikan sambutan yang baik yang pantas mereka terima, atas ijin Allah SWT, dengan nyaman, damai dan tenang, meskipun jika mereka membuat beberapa kesalahan.

Semoga Allah SWT menganugerahi kita kesanggupan untuk melaksanakan pengucapan salam dengan semangat islami yang lurus didalam hidup kita sehari-hari dan dengan melaksanakannya menumbuhkan kasih-sayang dan persatuan diantara kita. Amiin.

***

Author by:  Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)



Yang Diangkat Menjadi Pemimpin

Sahabat Abi Hurairah meriwayatkan:

“Barang siapa mendengarkan bacaan ayat-ayat dari kitabullah (Al-Quran), maka dituliskan untuknya kebaikan yang berlipat ganda. Barang siapa membaca Al-Quran maka ayat-ayat itu akan menjadi cahaya penerang (petunjuk) baginya pada hari Kiamat nanti. ( HR Ahmad)

Sahabat Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah mengirim suatu utusan yang banyak bilangannya. Lalu beliau meminta kepada mereka agar membaca Al-Quran satu persatu. Kemudian beliau datangi yang paling muda lalu bertanya “Surat apakah yang engkau hafal ?”. Jawabnya, ” Aku hafal surat Al -Baqarah ya Rasulullah. ” Rasulullah bertanya lagi, “Benarkah engkau hafal surat Al-Baqarah?”, jawabnya: “Ya Rasulullah, saya menghafal betul-betul surat AL-Baqarah.” Lalu Rasulullah bersabda: ” Kalau begitu berangkatlah! Dan engkau yang menjadi pimpinan pasukan ini “(HR Tamidzi, termasuk hadith hasan).

Rasulullah telah memprioritaskan orang yang menghafal Al-Quran untuk diangkat menjadi pimpinan. Artinya, adalah orang yang alim Al-Quran, yang hafal dan menguasai isi Al-Quran tidak bakal tersesat dalam setiap melangkah dan kebijaksanaan yang diambilnya.

Ada salah seorang bangsawan dari kalangan sahabat berkata: “Ya Rasululaah, demi Allah. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang menghalangiku untuk menghafal surat Al-Baqarah (mengahafal Al-Quran), hanya saja, aku kawatir kalau sampai tidak bisa mengamalkannya”. Lalu Rasulullah bersabda: “Pelajari dan bacalah Al-Quran! Sebab, perumpamaan Al-Quran bagi orang yang memperlajari, membaca dan mengamalkan- nya, adalah ibarat bejana yang berisi minyak wangi. Baunya merebak dan memendar wangi dimanapun ia berada. Sedang orang yang mempelajari Al-Quran, dan belum sempat mengamalkannya, ia terlena, adalah ibarat gereba (tempat air) milik tukang pandai besi (artinya tetap ada manfaatnya). (HR Tarmidzi).

Para ulama salaf, mengerti betul tentang nilai lebih (keutamaan) Al-Quran. Baik nilai lebih (keutamaan) disaat membaca maupun dikala mengamalkan isi kandungannya. Karena itu mereka, para ahli salaf. menjadikan Al-Quran sebagai sumber perundang-undangan, sumber hukum dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Al-Quran adalah sebagai penyejuk hati ditengah gersangnya kehidupan, merupakan pelipur lara dan pemberi harapan akan kehidupan di akhirat kelak. Dan ini hanya dipahami bila kita amati oleh mata hati. Karena itulah Allah menjanjikan pahala kepada mereka didunia berupa kedudukan mulia, dan kedudukan luhur di akhirat kelak. Allahu ‘alam bisawab.

***


Mengenal Rasulullah Secara Fisik
Rasulullah saw tidak jangkung dan tidak pula terlalu pendek.
Warna kulitnya putih bersih dan tidak terlalu coklat dan tidak terlalu putih (pucat). Maksud dari putih bersih adalah tidak ada noda kuning atau merah atau juga noda warna-warna lain. Sebagian ada yang mengatakan kulit Nabi kemerah-merahan.
Keringat yang keluar dari wajah beliau bagaikan butir-butir mutiara, wanginya melebihi wangi minyak misik.
Rambut beliau sangat indah, tidak keriting dan tidak pula lurus, yaitu ikal. Rambut beliau sampai menyentuh pundak, tetapi pendapat yang lebih kuat mengatakan bahwa rambut beliau sampai daun telinga. Terkadang beliau menguncir empat dan terkadang dibiarkan tergerai di telinganya. Uban yang ada di kepala dan jenggot tidak lebih dan kurang dari tujuh belas helai.
Beliau memiliki paras yang indah (ganteng) dan bercahaya. Tidak ada yang mampu menggambarkan wajahnya kecuali membandingkan dengan bulan purnama. Kulit wajahnya sangat halus, sehingga ketika marah dan senang sangat terlihat sekali. Keningnya lebar. Lekuk kedua alisnya sangat indah, di antara dua alisnya berkilat bagaikan perak, lebih-lebih ketika tertawa.
Memiliki bulu mata yang lentik. Hidungnya tidak mancung dan tidak pesek. Giginya tersusun rapi, ketika tertawa terlihat bercahaya dari giginya yang putih.
Memiliki bibir yang paling indah dan menawan. Pipinya lembut. Kedua rahangnya tidak terlalu panjang dan tidak pula tembem.
Memiliki jenggot yang lebat. Karena beliau sangat suka memelihara jenggot dan menggunting kumis. Lehernya sangat indah, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Setiap kali terkena sinar matahari dan hembusan angin, lehernya berkilau seperti perak bercampur emas.
Memiliki dada yang bidang, tegak bagaikan cermin dan putih bagaikan bulan. Di antara dada dan pusarnya tidak ada rambut. Punggungnya lebar, di antara kedua pundaknya terdapat stempel kenabian, yaitu di sebelah pundaknya yang kanan.
Telapak tangan beliau sangat lembut melebihi lembutnya sutra dan wangi seperti parfum. Setiap orang yang bersalaman dengannya akan merasakan wanginya sepanjang hari. Apabila tangannya diletakkan di atas kepala anak kecil maka kepala anak itu berbeda dengan kepala anak-anak lainnya karena aroma wangi yang keluar dari kepalanya.
Ketika berjalan, seperti seorang sedang turun dari bukit, tegap dan tenang. Tanpa ada kesombongan yang terlihat dari jalannya.

Ini Judul, Ok Heru Setyawan

Senin, 06 Mei 2013

Program Mencari Nilai Terbesar dan Terkecil dari suatu deretan Bilangan


Postingan pertama kali ini belum membahas tentang konsep dasar java tapi langsung menyuguhkan sebuah program sederhana yang dibuat dengan java untuk mencari nilai terbesar dan terkecil dari suatu deretan bilangan pada ARRAY. untuk pemahaman mengenai ARRAY akan dibahas di postingan berikut… :-)
algoritma pemogramannya kurang lebih seperti berikut :
  • mendeklarasikan sebuah variable ARRAY dengan tipe data integer dengan nilai yang telah diisi secara acak(lihat codingannya).
  • kemudian definisikan dua buah variable dengan tipe data integer yaitu variable MAX dan MIN. dengan asumsi nilai yang diisi untuk variabel MAX = 0 dan variable MIN = 1000. tentunya pembacaan dari kedua variable terdengar aneh kn?:-)…. ini hanya sekedar asumsi teman bahwa nntinya akan dilakukan perbandingan pada tahap selanjutnya..
  • lakukan perulangan yang dimulai dari (0) sampai dengan banyaknya index pada Array dikurangi 1…kenapa harus dimulai dari 0?karena index pada suatu array dimulai dengan index (0) :-) ..dankenapa harus dikurangi 1? karna jika tidak, maka  jumlah perulangan akan melebihi jumlah index pada ARRAY.. :-)
  • lalu buatlah dua buah kondisi dalam perulangan: kondisi pertama – untuk membandingkan nilai yang terdapat pada ARRAY (mis: nilai[a]) dengan nilai MAX. jika nilai pada ARRAY lebih besar (>) dari nilai MAX, maka nilai MAX digantikan dengan nilai pada ARRAY tersebut (MAX=nilai[a]). kondisi ini nantinya akan mendapatkan nilai terbesar dari deretan bilangan pada ARRAY. kondisi kedua : untuk membandingkan nilai yang terdapat pada ARRAY (mis:nilai[a]) dengan nilai MIN. jika nilai pada ARRAY lebih kecil (<) dari nilai MIN, maka nilai MIN digantikan dengan nilai pada ARRAY tersebut (MIN=nilai[a]). kondisi ini nantinya akan mendapatkan nilai terkecil dari suatu deretan bilangan pada ARRAY. berikut adalah kumpulan kodingan nya :


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
public class MaxMin {
 
 public static void main(String[] args) {
 int[] nilai = {20, 11, 53, 21, 35, 4, 82, 9, 22};
 int max = 0;
 int min = 1000;
 for (int a = 0; a < nilai.length; a++) {
      if (nilai[a] > max) {
          max = nilai[a];
      } else if (nilai[a] < min) {
          min = nilai[a];
      }
 }
 System.out.println("Nilai Maksimum : " + max);
 System.out.println("Nilai Minimun  : " + min);
 }
}

sekian dan terima kasih ...